Tentang Kami

Kami mengasihi gereja yang adalah tubuh Kristus.

Kami bersyukur untuk setiap guru sekolah minggu, pelayan anak, dan pemimpin yang dengan setia memperkenalkan generasi berikutnya kepada Yesus.

Namun ada sebuah kegelisahan yang terus muncul di hati kami.

Kami melihat banyak anak bertumbuh di sekolah minggu. Mereka mengenal cerita-cerita Alkitab, mengikuti kegiatan gereja, dan aktif dalam berbagai pelayanan. Namun ketika memasuki masa remaja atau dewasa muda, tidak sedikit yang perlahan menjauh dari Tuhan.

Mereka mengenal tentang Allah, tetapi tidak sungguh mengenal Allah secara pribadi.

Pertanyaan itu membuat kami terus berpikir:

Bagaimana kita dapat menolong anak-anak memiliki iman yang tetap bertahan sampai dewasa?

Semakin kami mempelajari Alkitab, semakin kami menyadari bahwa Tuhan tidak pernah merancang pemuridan hanya terjadi di gereja.

Dalam Ulangan 6, Tuhan memanggil orang tua untuk mengajarkan firman-Nya kepada anak-anak mereka dalam kehidupan sehari-hari—saat duduk di rumah, dalam perjalanan, ketika berbaring, dan ketika bangun.

Pemuridan bukan sekadar sebuah program.

Pemuridan adalah sebuah gaya hidup.

Dan rumah adalah tempat pemuridan yang pertama.

Karena itulah Home of Disciples lahir.

Bukan karena kami memiliki semua jawaban.

Bukan karena kami adalah keluarga yang sempurna.

Tetapi karena kami percaya bahwa Tuhan memanggil setiap orang tua untuk menjadi murid Kristus yang sedang membesarkan murid Kristus berikutnya.

Melalui artikel, sumber parenting, renungan keluarga, ide percakapan rohani, dan berbagai materi lainnya, kami ingin membantu keluarga-keluarga menjadikan rumah mereka sebagai tempat di mana iman tidak hanya diajarkan, tetapi juga dilihat, dirasakan, dan dihidupi setiap hari.

Kami percaya bahwa gereja dan keluarga bukanlah dua pihak yang berjalan sendiri-sendiri.

Keduanya dipanggil untuk berjalan bersama dalam membentuk generasi yang mengenal, mengasihi, dan mengikuti Yesus.

Kami bermimpi melihat anak-anak yang bukan hanya bertahan di gereja sampai dewasa, tetapi tetap mengasihi Yesus ketika tidak ada guru sekolah minggu yang mengawasi mereka, tidak ada orang tua yang mengingatkan mereka, dan tidak ada program gereja yang menopang mereka.

Karena murid yang sejati lahir ketika iman menjadi milik pribadi.

Dan perjalanan itu dimulai di rumah.

Kami percaya pemuridan dimulai di rumah, ketika orang tua sengaja menghadirkan Yesus dalam percakapan, kebiasaan, dan keputusan.

Jesus with a glowing halo holding hands with a family of four walking on a flower-lined path in a green countryside setting.