Ikan Tidak Pernah Les Berenang. Pernahkah Anda melihat seekor ikan mengikuti kursus berenang? Tentu tidak. Ikan berenang karena ia diciptakan untuk berenang. Burung tidak perlu sekolah khusus untuk belajar terbang. Mereka terbang karena memang dirancang untuk itu. Bayi tidak perlu diajarkan cara menangis ketika lapar. Mereka melakukannya secara alami karena memang demikian mereka diciptakan.
Ketika sesuatu berfungsi sesuai rancangannya, kita tidak heran melihatnya. Justru akan terasa aneh jika seekor ikan takut masuk ke air. Atau seekor burung menolak menggunakan sayapnya. Karena Sang Pencipta telah merancang mereka untuk tujuan tertentu. Begitu juga dengan orang tua. Mungkin Anda tidak pernah memikirkannya, tetapi salah satu rancangan Tuhan bagi orang tua adalah memuridkan anak-anak mereka.
Mengapa banyak orang tua merasa tidak mampu? Ketika mendengar kata pemuridan, banyak orang tua langsung mundur selangkah. Mereka membayangkan seorang pendeta yang mengajar Alkitab. Seorang guru sekolah minggu yang kreatif. Atau seorang pemimpin rohani yang sangat mengerti firman Tuhan. Lalu mereka berkata dalam hati: “Saya bukan orang seperti itu”, “Saya tidak pandai mengajar”, “Saya masih banyak kekurangan”, “Saya takut salah”. Padahal sering kali kita sedang membandingkan diri dengan panggilan orang lain. Tuhan tidak pernah meminta setiap orang tua menjadi pendeta. Tetapi Tuhan memang memanggil setiap orang tua untuk menjadi pembimbing rohani bagi anak-anaknya.
Sebelum Tuhan memberi tugas, Tuhan sudah memberi rancangan. Dalam Ulangan 6, Tuhan memberikan tanggung jawab untuk mengajarkan firman kepada generasi berikutnya. Menariknya, Tuhan tidak memberikan tugas itu kepada orang yang paling pintar. Tuhan memberikannya kepada orang tua. Mengapa? Karena Tuhan tidak hanya memberi tugas. Tuhan juga memberi relasi. Orang tua memiliki sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun: kehadiran, kedekatan, kepercayaan, waktu bersama. Seorang anak mungkin mendengar guru sekolah minggu satu jam seminggu. Tetapi mereka melihat kehidupan orang tua setiap hari. Tuhan sengaja menempatkan anak di dalam keluarga karena keluarga adalah tempat pemuridan yang paling alami.
Anda sudah sedang memuridkan anak Anda. Banyak orang tua berkata: “Saya tidak memuridkan anak saya”. Padahal sebenarnya mereka sudah melakukannya. Pertanyaannya hanya: Ke arah mana mereka sedang dimuridkan?
Setiap hari anak belajar dari kita. Mereka belajar bagaimana menghadapi masalah. Bagaimana berbicara kepada orang lain. Bagaimana menggunakan uang. Bagaimana merespon kekecewaan. Bagaimana memperlakukan pasangan. Bagaimana mengelola emosi. Bagaimana memandang Tuhan. Anak-anak selalu belajar. Dan orang tua selalu mengajar. Bahkan ketika tidak sadar.
Karena itu, pemuridan bukan sesuatu yang harus ditambahkan ke dalam kehidupan keluarga. Pemuridan sebenarnya sudah sedang terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah mengarahkan pemuridan itu kepada Kristus.
Tuhan tidak mencari orang tua yang sempurna. Kabar baiknya, Tuhan tidak berkata: “Jadilah sempurna dulu baru memuridkan anakmu”. Jika itu syaratnya, tidak ada seorang pun yang memenuhi. Tuhan hanya mencari orang tua yang mau berjalan bersama-Nya. Orang tua yang mau bertobat ketika salah. Orang tua yang mau meminta maaf. Orang tua yang mau belajar. Orang tua yang mau terus bertumbuh.
Sering kali momen paling kuat dalam pemuridan bukan ketika kita memberikan jawaban yang sempurna. Melainkan ketika anak melihat kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus di tengah ketidaksempurnaan kita.
Anda lebih siap daripada yang Anda kira. Mungkin Anda tidak memiliki gelar teologi. Mungkin Anda tidak tahu jawaban untuk semua pertanyaan anak. Mungkin Anda masih belajar mengenal Tuhan lebih dalam. Tidak apa-apa. Karena pemuridan yang paling kuat bukanlah transfer informasi. Pemuridan adalah transfer kehidupan. Dan Tuhan telah menempatkan Anda tepat di posisi yang dibutuhkan anak Anda. Bukan orang lain. Bukan influencer. Bukan pendeta. Bukan guru sekolah minggu. Tapi Anda. Itulah sebabnya Tuhan mempercayakan anak itu kepada Anda.
Orang tua dipanggil untuk memuridkan karena mereka dirancang untuk memuridkan. Mungkin Anda tidak merasa cukup. Mungkin Anda tidak merasa siap. Tetapi Tuhan tidak pernah salah menempatkan seorang anak di dalam sebuah keluarga. Jika Tuhan mempercayakan anak itu kepada Anda, maka Ia juga akan memberikan kasih karunia untuk membimbing mereka mengenal-Nya. Mulailah dari langkah sederhana. Satu doa. Satu percakapan. Satu ayat. Satu momen bersama. Anda dipanggil menjadi orang tua yang berjalan bersama Yesus dan mengajak anak Anda berjalan bersama-Nya.
Mari refleksikan: Bagaimana jika selama ini saya tidak perlu menjadi “lebih hebat” untuk memuridkan anak saya? Bagaimana jika saya hanya perlu mulai menggunakan rancangan yang Tuhan sudah letakkan dalam diri saya sebagai orang tua?