Kadang yang membuat kita marah bukan dosa anak, tetapi kenyamanan kita yang terganggu.

“Kenapa kamu melakukan itu?!” Kadang kita berpikir kemarahan kita muncul karena anak sedang berbuat salah. Tetapi jika kita jujur, sering kali yang membuat kita marah bukanlah dosa anak, melainkan gangguan terhadap kenyamanan kita. Anak bergerak lambat ketika kita sedang terburu-buru. Anak menumpahkan minuman setelah kita selesai membersihkan rumah. Anak membuat keributan ketika kita ingin beristirahat. Lalu kita marah bukan karena mereka melanggar hukum Tuhan, tetapi karena mereka melanggar “hukum” yang kita buat sendiri—hukum kenyamanan, kontrol, reputasi, atau harapan pribadi kita.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa anak-anak bukan diberikan kepada kita untuk membuat hidup kita lebih mudah. Mereka diberikan kepada kita untuk dipimpin kepada Tuhan. Itulah sebabnya parenting bukan sekadar mengoreksi perilaku. Parenting adalah pekerjaan hati.

Saat anak berbuat salah, Tuhan sering kali sedang menunjukkan sesuatu yang perlu Ia kerjakan di hati mereka. Tetapi kadang, Tuhan juga sedang menunjukkan sesuatu yang perlu Ia kerjakan di hati kita.

Sebelum mengoreksi anak, periksalah hati kita. Sebelum menghukum, ingatlah bagaimana Tuhan memperlakukan kita dengan kasih karunia. Sebelum marah, tanyakanlah: “Apa yang sedang dilanggar? Hukum Tuhan atau hukumku?”



Tinggalkan komentar